CORONAVIRUS TANGGUNG JAWAB SIAPA?
Wabah melanda dunia, ribuan jiwa telah tiada.

Kepanikan merajalela, tatanan dunia porak-poranda akibat wabah Corona.
Lantas kita bisa apa?
STAY AT HOME!? Jawabnya.
Ini untuk diri anda, untuk keluarga anda, juga siapapun yang bersinggungan dengan anda.
Bila serentak kita semua bisa melakukan gerakan ‘stay at home’ tentu akan lebih cepat virus corona berlalu.
Ketakutan mampu melumpuhkan logika manusia. Bukti nyata terpampang nyata, ketika kasus Corona melanda. Manusia diberbagai belahan dunia panik. Kepanikan yang melemahkan kemanusian. Banyak orang menjadi kalap dan serakah.
Di Indonesia. Banyak orang yang berpunya, berbondong-bondong untuk memborong segala macam kebutuhan pokok dan mengakibatkan langka dan minimnya sembako dipasaran.
Di Australia, orang berebutan tissue toilet. Bahkan banyak video-video yang beredar, menampakan keserakahan. Wanita tega merebut satu paket tissue toilet, meski trolly besarnya sudah berisi penuh dengan tissue toilet?
Banyak pembeli yang bersilat lidah dan bahkan hampir baku hantam untuk mendapatkan lima kilo beras. Para penjaga tokopun banyak yang harus turut campur dan melerai agar keadaan tidak semakin menjadi-jadi.
#Dirumah saja, agar pandemic ini segera berlalu.
Ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan dirumah. Anda bisa berkebun. Tidak ada lahan? Bisa bercocok tanam dalam pot.
Tidak ada uang untuk membeli pot? Bisa menanam dibotol-botol bekas atau kemasan plastik minyak.
Lalu bibitnya dari mana?
Banyak sayuran seperti: kangkong, tomat, cabe, bawang merah dan putih yang ada didapur bisa langsung ditanam.
Menabung sangat penting. Meski sedikit tapi sangat perlu, disaat ada keadaan darurat seperti saat ini, setidaknya kita punya dana cadangan untuk bertahan, meskipun kita tidak bekerja.
Hidup memang keras dan hidup memang tidak adil, saya tahu itu.
Tapi sudahlah. Mari bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri.
#Stay at home. Ingat! Banyak orang yang saat ini terbaring dan meregang nyawa karena virus corona dan tak tangan yang dapat digengam dalam detik-detik terakhir mereka.
Pikirkan itu sebelum anda memutuskan pergi keluar.
Dari Liburan & Bekerja Menjadi Pelajar di Australia
Berlibur, Bekerja & Bersekolah di Australia. Semua yang saya tulis di sini berdasarkan pengalaman pribadi saya selama tinggal hampir 3 tahun di Australia.
Berkunjung sebagai Turis.
Tahun 2014 untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di negri kanguru. Kala itu saya datang sebagi turis, tentu saja saya datang dengan tourist visa. Saya menghabiskan hampir satu bulan untuk mengunjungi Sidney, Melbourne, Cairns dan sekitarnya. Baca disini untuk lebih lebih detailnya sebagi turis di Australia.
Dari perjalanan perdana saya di Australia membuka mata saya tentang peluang untuk bekerja dan berlibur lebih lama di Australia, yaitu dengan memanfaatkan Working and holiday visa (WHV). Good news, buat men-temen yang tertarik untuk datang ke Australia dengan WHV, pemerintah Australia dari tahun ketahun menignkatkan jumlah quota dan bahkan tahun untuk warga negara Indonesia. Dari awal Indonesia hanya di batasi dengan quota sebanyak 500 ke 1000 quota/ tahun dan dari hanya satu tahun, menjadi 2 tahun bahkan bisa di perpanjang hingga 3 tahun aktif mulai 2019. Untuk info lebih lanjut mengenai syarat dan cara untuk memperoleh working holiday visa Australia, klik di sini.
WHV angkatan saya hanya dapat 2 tahun kala itu, oh well. Lanjut, di penghujungworking holliday saya yang hampir expired. Kala itu hanya tinggal 5 minggu, entah dari mana sampai akhir nya terbesit keinginan untuk stay lebih lama di Australia dengan cara apply student visa onshore. Dan itu lah yang saya lakukan.
Hidup di Autralia sebagi pelajar sangatlah berbeda dengan kehidupan sebagain WHV warrior. Ada Batasan waktu kerja yakni 20 jam per fortnight (2 minggu).
The Journey Begins
Thanks for joining me!
Good company in a journey makes the way seem shorter. — Izaak Walton


